KPK Perkuat Bukti Jerat Sofyan Basir

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih mencermati bukti-bukti permulaan dugaan keterlibatan Direktur Utama PLN Sofyan Basir dalam kasus dugaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-I. Penyidik harus memastikan bukti untuk menjerat bos PLN itu kuat.

“Tentu KPK akan cermati, tapi prosesnya tak langsung ditingkatkan tersangka,” kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Jumat, 18 Januari 2019.

Menurut Febri, penyidik KPK juga masih harus mencermati fakta-fakta yang muncul dalam persidangan. Semua hal baru yang diungkap pasti akan dilaporkan jaksa ke pimpinan KPK.

“Poin krusialnya kalau ada pihak lain yang diduga pelaku tentu harus dengan bukti permulaan yang cukup,” pungkasnya.

KPK membuka penyelidikan baru kasus dugaan suap PLTU Riau-I. Lembaga Antirasuah bahkan mengamini pengembangan kasus ini mengarah kepada Direktur Utama PLN Sofyan Basir.

Dalam putusan terdakwa Johannes Budisutrisno Kotjo, Sofyan disebut ikut berperan meloloskan perusahaan Blackgold Natural Recourses Limited sebagai konsorsium penggarap proyek PLTU Riau-I. Sofyan disebut sebagai pihak yang menawarkan proyek PLTU Riau-I kepada Setya Novanto dan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih, agar digarap oleh perusahaan Blackgold, milik Johannes.

Nama Sofyan memang berulang kali muncul dalam penyidikan atau persidangan kasus suap PLTU Riau-I. Menurut pengakuan Eni, Sofyan sempat dijanjikan menerima fee paling banyak. Namun, akhirnya Sofyan mendapat fee sama dengan yang diterima Eni dan Idrus Marham.

KPK baru menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-I. Ketiga tersangka itu yakni bos Blackgold Natural Recourses Limited Johannes Budisutrisno Kotjo, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih, serta mantan Menteri Sosial Idrus Marham.

Eni bersama dengan Idrus diduga menerima hadiah atau janji dari Kotjo. Eni diduga menerima uang sebesar Rp6,25 miliar dari Kotjo secara bertahap. Uang itu adalah jatah Eni untuk memuluskan perusahaan Kotjo sebagai penggarap proyek PLTU Riau-I.

(AGA)